8.11.11

Teori Hegemoni Antonio Gramsci

Hegemoni merupakan gagasan Antonio Gramsci (1891-1937) yang bersumber dari buku Selection from Prison Notebooks. Buku ini adalah catatan Gramsci selama dipenjara antara tahun 1929-1935. Teori hegemoni Antonio Gramsci menganalisa berbagai relasi kekuasaan dan penindasan di masyarakat. Lewat perspektif hegemoni, akan terlihat bahwa penulisan, kajian suatu masyarakat, dan media massa merupakan alat kontrol kesadaran yang dapat digunakan kelompok penguasa. Alat kontrol tersebut memainkan peranan penting dalam menciptakan lembaga dan sistem yang melestarikan ideologi kelas dominan.

Hegemoni berasal bahasa Yunani, egemonia yang berarti penguasa atau pemimpin. Secara ringkas, pengertian hegemoni adalah bentuk penguasaan terhadap kelompok tertentu dengan menggunakan kepemimpinan intelektual dan moral secara konsensus. Artinya, kelompok-kelompok yang terhegemoni menyepakati nilai-nilai ideologis penguasa.

Gramsci membedakan antara konsep dominasi dan hegemoni, di mana dominasi merupakan model penguasaan yang ditopang oleh kekuatan fisik. Sedangkan hegemoni adalah model penguasaan yang lebih halus, yaitu secara ideologis.

Teori hegemoni Gramsci memberikan sumbangan bagi pemikiran Marxian yang berkembang sebelumnya, yaitu: pertama, Gramsci menerapkan konsep tersebut pada setiap relasi sosial, bukan hanya dalam konteks hubungan buruh dan majikan. Kedua, hegemoni adalah pengaruh kultural, bukan kepemimpinan politik dalam sebuah sistem aliansi sebagaimana dipahami generasi Marxis sebelumnya. Selain itu, perbedaan hegemoni Gramsci dengan aliran Marxian sebelumnya adalah, gagasannya mulai terpisah dari determinisme dan ekonomisme Marxis. Gramsci lebih menekankan pada suprastruktur gagasan manusia daripada substruktur ekonomi masyarakat.

Hegemoni melakukan kendali melalui penciptaan kesadaran umum masyarakat oleh kelas yang berkuasa. Hegemoni menggunakan kombinasi “paksaan” dengan “kerelaan”. Artinya hegemoni bukan hanya memaksa subjek yang dikuasai, namun juga menciptakan kondisi di mana subjek merelakan dirinya untuk dikuasai. Dan, kondisi demikian diciptakan melalui ideologi, sebagai medium penyampai gagasan yang dipercayai. Pada praktiknya, hegemoni dicapai bukan melalui indoktrinasi langsung, tetapi menyusup lewat tatanan nilai dan sistem makna yang dihayati masyarakat. Jadi, ideologi bukan cuma cerminan atas kondisi material sebagaimana pandangan kaum Marxis. Namun konsepsi kehidupan yang tampak dalam semua aspek masyarakat.

Teori hegemoni Antonio Gramsci cukup populer di kalangan kelompok-kelompok gerakan sosial, terutama mereka yang mendasarkan diri pada pemikiran kritis dan Marxisme. Baca artikel sosiologi di sini.